MOROWALI UTARA, Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Morowali Utara tahun 2026, panitia menyelenggarakan Lomba Dero Kreasi yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SD, SMP hingga SMA sederajat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta kelompok umum, organisasi, grup, dan tim masyarakat.
Lomba yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 13.30 WITA tersebut dipusatkan di halaman Gedung Serba Guna Tepo Asa Aroa Morokoa, Kolonodale. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan hari jadi Kabupaten Morowali Utara yang diharapkan mampu mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah.
Lomba Dero Kreasi tidak hanya menjadi ajang hiburan dan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kreativitas, kekompakan, keselarasan gerakan, serta kemampuan mengembangkan tarian dero tanpa meninggalkan karakter dan nilai budaya yang melekat pada kesenian tersebut.
Dero yang dikenal luas dalam tradisi masyarakat Poso dan Mori memiliki ciri khas berupa gerakan bersama dengan formasi melingkar. Karakter tersebut menjadi unsur utama yang wajib dipertahankan oleh seluruh peserta, meskipun setiap tim diberikan keleluasaan untuk mengembangkan variasi gerakan sesuai kreativitas masing-masing.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Morowali Utara dan Ketua Koordinator Bidang Lomba HUT ke-13 Kabupaten Morowali Utara, Juber Habibu, S.Pd., M.Pd., telah menetapkan petunjuk teknis sebagai pedoman pelaksanaan lomba, mulai dari persyaratan peserta, jumlah anggota setiap tim, durasi penampilan, musik pengiring, ketentuan pakaian, hingga kriteria penilaian.
Tiga Kategori Lomba Dero Kreasi
Dalam petunjuk teknis yang ditetapkan panitia, peserta Lomba Dero Kreasi dibagi menjadi tiga kategori, yakni kategori pelajar SD sederajat, kategori SMP/SMA sederajat, kategori OPD, serta kategori umum yang mencakup organisasi, grup, dan tim masyarakat.
Kategori pertama, pelajar SD sederajat.
Peserta pada kategori ini merupakan siswa dan siswi dari sekolah masing-masing. Setiap sekolah hanya diperbolehkan mengutus satu tim dengan jumlah peserta paling sedikit 15 orang dan paling banyak 20 orang.
Ketentuan tersebut dimaksudkan agar setiap sekolah dapat mempersiapkan tim secara terorganisasi dengan tetap memperhatikan kekompakan dan keseragaman penampilan.
Berdasarkan daftar peserta yang tercantum dalam data panitia, kategori SD sederajat diikuti oleh 12 sekolah, yaitu SDN Molino, SDN Peboa, SDN Wawopada, SD GKST Kolonodale, SD GKST Ensa Mohoni, SDN Beteleme, SDN 1 Kolonodale, SD Alkhairaat Bungintimbe, SDN Korololama, SDN 2 Kolonodale, SDN Mohoni Ensa, serta SDN Keuno.
Keterlibatan sekolah-sekolah tersebut diharapkan menjadi sarana pembinaan kreativitas dan pengenalan budaya daerah sejak usia dini. Melalui kegiatan ini, para pelajar dapat belajar membangun kerja sama, disiplin, dan rasa percaya diri melalui seni pertunjukan tradisional.
Kategori kedua, pelajar SMP/SMA sederajat.
Pada kategori ini, peserta juga harus berasal dari sekolah masing-masing. Setiap sekolah hanya diperbolehkan mengirimkan satu tim dengan jumlah anggota minimal 15 orang dan maksimal 20 orang.
Berdasarkan daftar yang tersedia, terdapat lima sekolah yang tercatat dalam kategori SMP/SMA sederajat, yaitu SMP Mia Pande dari Petasia Timur, SMPN 2 Petasia dari Kolonodale, SMP Alkhairaat dari Bungintimbe, SMP 1 Petasia Timur dari Petasia Timur, serta SMPN 1 Petasia dari wilayah Petasia.
Kategori pelajar ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas melalui koreografi dero yang lebih variatif, sekaligus tetap mempertahankan ciri khas gerakan dan formasi melingkar.
Kategori ketiga, Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Kategori OPD diperuntukkan bagi peserta yang berasal dari instansi masing-masing, meliputi kepala dinas, pejabat administrasi, pejabat fungsional, serta PNS/ASN di lingkungan OPD tersebut.
Setiap OPD hanya diperbolehkan mengutus satu tim dengan jumlah peserta minimal 25 orang. OPD juga diperbolehkan melibatkan seluruh ASN yang bertugas di instansinya.
Kategori ini menjadi salah satu bentuk partisipasi aparatur pemerintah dalam memeriahkan hari jadi Kabupaten Morowali Utara. Selain menampilkan kreativitas, keikutsertaan OPD diharapkan dapat memperkuat kebersamaan dan semangat kekeluargaan antarapegawai di lingkungan pemerintahan daerah.
Berdasarkan daftar nomor undian dan nama pendaftar, terdapat 14 peserta dari unsur OPD atau instansi yang tercantum, yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morowali Utara, Badan Pendapatan Daerah Morowali Utara, Satpol PP, PTPS Morowali Utara, Dinas P2KBP3AD Morowali Utara, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), BKPSDM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Inspektorat Daerah, Puskesmas Tomata, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Bappelitbangda.
Nama pendaftar yang tercantum secara berurutan adalah Rahmat, Dessy, Ederson Engka, Glori, Rista Aris, T. B. Diwonda, Halimah, Inn, Elhy, Lian Kaope, Hj. Imma, Yaya Oktaviani Tampake, Yayan, dan Gersom Tandi.
Kategori keempat dalam pembagian peserta, yaitu umum, organisasi, grup, dan tim masyarakat.
Kategori ini terbuka bagi kelompok yang tidak terikat pada persyaratan keanggotaan sekolah maupun OPD tertentu. Setiap tim diwajibkan memiliki anggota paling sedikit 10 orang dan paling banyak 15 orang.
Berdasarkan daftar panitia, terdapat empat peserta yang tercatat dalam kategori umum, yaitu The One Grup dari Desa Londi, Kecamatan Mori Atas; Yudha Brama Jaya dari Kolonodale; Peboa Squad dari Peboa, Petasia Timur; serta Kelurahan Bahontula dari Bahontula.
Keterlibatan kelompok masyarakat tersebut menunjukkan bahwa perayaan HUT Kabupaten Morowali Utara menjadi ruang partisipasi bersama bagi berbagai unsur masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas melalui seni dan budaya.
Peserta Wajib Mempertahankan Ciri Khas Dero
Dalam ketentuan umum lomba, peserta diberikan kebebasan untuk berkreasi dalam mengembangkan gerakan. Namun, setiap tim tetap diwajibkan mempertahankan formasi melingkar sebagai ciri khas utama tarian dero.

Ketentuan tersebut menjadi salah satu prinsip penting dalam penampilan peserta. Inovasi gerakan diperbolehkan selama tidak menghilangkan karakter dasar tarian yang menjadi identitas kesenian tersebut.
Setiap tim diberikan waktu penampilan selama 7 hingga 10 menit. Durasi tersebut dihitung sejak peserta memasuki arena lomba hingga seluruh penampilan selesai.
Untuk musik pengiring, peserta diwajibkan menggunakan irama musik dero khas Poso atau Mori yang disiapkan sendiri oleh masing-masing tim.
Apabila peserta memilih menggunakan keyboard atau instrumen musik secara langsung, tim tersebut wajib menyiapkan pemain musik dan vokalis sendiri. Dengan demikian, seluruh kebutuhan pendukung penampilan menjadi tanggung jawab masing-masing peserta.
Dari sisi busana, panitia memberikan keleluasaan kepada peserta untuk memilih pakaian yang akan digunakan. Kendati demikian, pakaian harus tetap memenuhi ketentuan bebas, rapi, dan sopan. Peserta juga diperbolehkan menggunakan pakaian olahraga atau training.
Ketentuan tersebut memberikan ruang bagi setiap tim untuk menampilkan identitas dan kekompakan kelompok melalui pilihan busana yang serasi, tanpa mengabaikan aspek kepantasan selama perlombaan berlangsung.
Wajib Hadir 30 Menit Sebelum Lomba
Panitia juga menetapkan ketentuan mengenai kedisiplinan dan kesiapan peserta. Seluruh tim diwajibkan hadir 30 menit sebelum perlombaan dimulai agar dapat mempersiapkan diri sesuai kebutuhan teknis.
Urutan penampilan peserta mengikuti nomor undian yang telah ditentukan. Peserta harus memperhatikan panggilan panitia dan bersiap ketika giliran tampil tiba.
Apabila suatu tim telah dipanggil sebanyak tiga kali tetapi belum hadir, panitia menetapkan bahwa tim tersebut dinyatakan gugur.
Ketentuan ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban, kelancaran, dan efektivitas pelaksanaan lomba, mengingat setiap peserta memiliki batas waktu penampilan yang telah ditentukan.
Sementara itu, pendaftaran Lomba Dero Kreasi dibuka mulai 9 Oktober hingga 17 Oktober 2026, dengan batas akhir pendaftaran pada pukul 24.00 WITA.
Enam Aspek Menjadi Dasar Penilaian Juri
Untuk menjamin penilaian yang terarah, panitia menetapkan enam kriteria utama yang menjadi dasar penilaian penampilan peserta.
Pertama, kekompakan dan keselarasan gerak. Aspek ini menilai kesamaan gerakan, kebersamaan, serta kemampuan seluruh anggota tim menampilkan gerakan secara serempak.
Kedua, kreativitas dan variasi gerak. Penilaian berfokus pada inovasi dan pengembangan koreografi yang ditampilkan peserta tanpa meninggalkan karakter khas gerakan dero.
Ketiga, penguasaan gerakan dan ekspresi. Aspek ini mencakup ketepatan gerakan, penguasaan koreografi, ekspresi, serta semangat peserta selama tampil di arena lomba.
Keempat, kesesuaian gerak dengan musik. Juri menilai kemampuan peserta menyesuaikan gerakan dengan tempo dan irama musik dero yang digunakan.
Kelima, kestabilan penampilan. Aspek ini menilai konsistensi tim dalam mempertahankan kualitas penampilan dari awal hingga akhir, termasuk kesinambungan gerakan dan kekompakan kelompok.
Keenam, penampilan. Penilaian meliputi kerapian dan keserasian peserta secara keseluruhan, termasuk keselarasan penampilan antaranggotanya.
Keenam kriteria tersebut menjadi pedoman untuk menilai kualitas penampilan masing-masing tim, baik dari sisi teknik gerakan maupun kreativitas dalam mengembangkan pertunjukan.
Dengan adanya kriteria yang telah ditetapkan, peserta diharapkan dapat mempersiapkan penampilan secara maksimal, mulai dari latihan bersama, penyelarasan gerakan, pemilihan musik, hingga penataan busana.
Menjaga Budaya, Memperkuat Kebersamaan
Penyelenggaraan Lomba Dero Kreasi dalam rangka HUT ke-13 Kabupaten Morowali Utara menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk turut merayakan hari jadi daerah melalui kegiatan yang mengedepankan seni, budaya, kreativitas, dan kebersamaan.
Keterlibatan pelajar, ASN, serta kelompok masyarakat diharapkan dapat memperluas partisipasi dalam kegiatan perayaan sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam suasana kebersamaan.
Bagi kalangan pelajar, lomba ini menjadi wadah untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama. Bagi ASN, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarsesama aparatur di luar aktivitas kedinasan. Sementara bagi kelompok masyarakat, perlombaan ini memberikan ruang untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Melalui kegiatan tersebut, semangat peringatan HUT ke-13 Kabupaten Morowali Utara tidak hanya diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.(*)





